Bagi jutaan umat Muslim yang pernah menginjakkan kaki di Masjidil Haram, sebuah struktur kecil berbentuk kubah kaca berlapis emas di dekat Ka’bah pasti sudah tidak asing lagi. Tempat yang selalu dikerumuni jemaah untuk melihat ke dalamnya atau mendirikan salat di belakangnya ini dikenal sebagai Maqam Ibrahim.
Namun, berbeda dengan persepsi awam, Maqam Ibrahim bukanlah kuburan atau makam Nabi Ibrahim AS. Kata “maqam” dalam bahasa Arab merujuk pada “tempat berdiri”. Tempat ini menyimpan batu pemijat yang menjadi saksi bisu pembangunan Baitullah ribuan tahun lalu.
Asal-Usul dan Mukjizat Batu Maqam Ibrahim
Sejarah Maqam Ibrahim berkaitan erat dengan perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, untuk membangun kembali Ka’bah.
Ketika dinding Ka’bah mulai meninggi dan melampaui jangkauan tangan, Nabi Ismail AS mencarikan sebuah batu besar agar ayahnya bisa berdiri di atasnya untuk melanjutkan susunan batu hitam (hajar aswad) dan batu lainnya. Di sinilah mukjizat itu terjadi:
- Batu yang Melunak: Atas izin Allah, batu hitam keras yang menjadi pijakan Nabi Ibrahim berubah melunak seperti lilin atau tanah liat, sehingga telapak kaki Nabi Ibrahim tenggelam dan membekas jelas di atasnya.
- Lift Alami Zaman Nabi: Berbagai riwayat menyebutkan bahwa batu tersebut dapat bergerak naik dan turun sesuai kebutuhan Nabi Ibrahim saat menyusun dinding Ka’bah, tanpa perlu tangga.
Hingga saat ini, bekas kedua telapak kaki tersebut masih terlihat jelas. Bentuknya berupa dua lubang oval dengan kedalaman sekitar 9 cm dan 10 cm.
Kedudukan Maqam Ibrahim dalam Al-Qur’an
Keistimewaan tempat ini bukan sekadar cerita sejarah, melainkan diabadikan langsung oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an. Salah satunya ada dalam QS. Al-Baqarah ayat 125:
“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Ka’bah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat salat…”
Selain itu, dalam QS. Ali ‘Imran ayat 97, Maqam Ibrahim disebut sebagai salah satu tanda nyata (ayatun bayyinat) atas kebesaran Allah dan kesucian Masjidil Haram.
Peran Maqam Ibrahim dalam Rangkaian Ibadah Haji dan Umrah
Dalam fikih ibadah haji dan umrah, Maqam Ibrahim memiliki fungsi praktis sekaligus spiritual yang sangat penting. Setelah menyelesaikan 7 putaran Tawaf, jemaah disunnahkan untuk:
- Mendirikan Salat Sunnah Tawaf: Salat dua rakaat ini sangat dianjurkan dilakukan di belakang Maqam Ibrahim (jika kondisi dan kepadatan jemaah memungkinkan).
- Membaca Ayat Khusus: Saat menuju ke belakang Maqam, jemaah disunnahkan membaca: “Wattakhidzuu min maqaa-mi ibraahiima mushallaa” (Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat).
Transformasi Fisik dari Masa ke Masa
Pada masa awal Islam, batu Maqam Ibrahim diletakkan di dalam ruangan kecil berbentuk kuil. Namun, seiring melonjaknya jumlah jemaah haji dari seluruh dunia, struktur tersebut beberapa kali direnovasi agar tidak mempersempit area tawaf (mataf).
| Aspek | Kondisi Saat Ini |
| Batu Pijakan | Batu hitam berbentuk persegi dengan cetakan kaki sedalam kurang lebih 10 cm. |
| Casing Dalam | Batu tersebut dibungkus perak murni untuk menjaga keutuhannya dari erosi. |
| Struktur Luar | Dilindungi kristal kaca antipanas dan antipeluru, lalu dibingkai dengan tembaga berlapis emas murni setinggi sekitar 2 meter. |
Kesimpulan
Maqam Ibrahim bukan sekadar monumen arsitektur yang megah di tengah Masjidil Haram. Ia adalah simbol ketaatan total, kerja keras, dan mukjizat nyata dari kisah abadi Nabi Ibrahim dalam menegakkan tauhid. Setiap kali jemaah memandangnya atau salat di belakangnya, ada pengingat tentang nilai keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT.




