Evolusi Sejarah Tarawih ini tidak dimulai dengan nama “Tarawih”, melainkan dengan sebutan Qiyam Ramadan (bangun di malam Ramadan). Di balik riuhnya saf-saf salat yang kita lihat hari ini, ada perjalanan emosional antara seorang Rasul yang sangat mencintai umatnya dan para sahabat yang sangat rindu beribadah bersama pemimpin mereka.
Evolusi Sejarah Tarawih Tahap 1: Kisah Tiga Malam yang Menggetarkan Madinah
Pada suatu malam di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan tahun ke-2 Hijriah, suasana Masjid Nabawi sangat tenang. Rasulullah SAW keluar dari biliknya dan mulai melaksanakan salat sunnah sendirian di kegelapan malam.
Beberapa sahabat yang berada di masjid melihat beliau. Tanpa dikomando, mereka merapatkan barisan di belakang Nabi. Kabar ini tersebar cepat ke seantero Madinah melalui bisik-bisik hangat di pasar dan sumur-sumur air.
- Malam Kedua: Jumlah jamaah membengkak. Orang-orang saling berkabar, “Rasulullah salat di masjid malam ini!”
- Malam Ketiga: Masjid Nabawi hampir penuh. Suasana haru dan khusyuk menyelimuti setiap sujud mereka.
Namun, pada malam keempat, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Masjid sudah penuh sesak. Para sahabat menunggu dengan penuh debar, sesekali berdehem agar suara mereka terdengar ke bilik Nabi. Namun, hingga fajar menyingsing, pintu bilik Rasulullah tetap tertutup. Beliau hanya keluar saat azan Subuh berkumandang.
Setelah salat Subuh, Rasulullah SAW berbalik menghadap jamaah yang tampak bingung. Beliau bersabda dengan nada yang sangat lembut:
“Sesungguhnya aku tahu apa yang kalian lakukan semalam. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian, kecuali satu hal: Aku khawatir salat ini akan diwajibkan atas kalian, lalu kalian tidak sanggup memikulnya.”
Inilah bukti cinta Rasulullah. Beliau lebih memilih menahan kerinduannya salat berjamaah demi memastikan umatnya tidak terbebani oleh hukum “wajib” yang mungkin turun jika ibadah itu terus dilakukan secara rutin bersama Nabi. Sejak saat itu, hingga Nabi wafat, para sahabat salat malam di rumah masing-masing atau dalam kelompok sangat kecil (2-3 orang) di sudut-sudut masjid.
Tahap 2: Era “Lampu-Lampu Kecil” di Masa Abu Bakar
Setelah Rasulullah wafat, kepemimpinan berpindah ke tangan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Masa ini adalah masa yang sibuk. Abu Bakar harus menghadapi nabi palsu dan pemberontakan (Perang Riddah).
Di bulan Ramadan, pemandangan di Masjid Nabawi tampak unik. Tidak ada saf panjang yang rapi. Di sudut kanan ada tiga orang salat bersama, di tiang kiri ada satu orang salat sendirian, di bagian belakang ada kelompok kecil lainnya. Masjid dipenuhi gumam bacaan Al-Qur’an yang bersahutan namun tidak seragam. Abu Bakar membiarkan hal ini karena fokus utamanya adalah menjaga fondasi negara yang baru saja ditinggal wafat nabinya.
Evolusi Sejarah ke 3: Ijtihad Sang “Al-Faruq” (Umar bin Khattab)
Evolusi Sejarah Tarawih yang terakhir yaitu Pada Tahun 14 Hijriah, Khalifah Umar bin Khattab berjalan masuk ke masjid di suatu malam Ramadan. Beliau adalah sosok yang sangat menyukai keteraturan dan persatuan. Melihat jamaah yang terpencar-pencar, Umar bergumam:
“Menurutku, akan lebih baik jika mereka disatukan di bawah satu imam yang bacaannya paling bagus.”
Umar tidak ingin mengubah syariat, ia hanya ingin mengembalikan gairah berjamaah yang pernah dirasakan di masa Nabi, namun kali ini tanpa rasa khawatir akan “diwajibkan” (karena wahyu telah terputus seiring wafatnya Nabi).
Umar kemudian menunjuk Ubay bin Ka’ab, seorang sahabat dengan suara paling merdu dan hafalan paling kuat, untuk memimpin kaum laki-laki. Beliau juga menunjuk Sulaiman bin Abi Hatsmah untuk memimpin kaum wanita.
Keesokan malamnya, Umar kembali ke masjid. Beliau melihat pemandangan indah: satu barisan rapi, satu suara imam yang menggetarkan hati, dan satu kekhusyukan yang seragam. Umar tersenyum dan mengucapkan kalimat legendarisnya: “Ni’matul bid’ah hadzihi” (Inilah sebaik-baiknya inovasi).
Istilah “Tarawih” sendiri sebenarnya tidak dikenal secara luas di zaman Nabi. Nama ini baru populer belakangan. Kata ini berasal dari Raha (istirahat). Sebab, pada masa Umar dan generasi setelahnya, mereka mengejar keutamaan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam salat malam. Bayangkan, mereka bisa berdiri sangat lama untuk mendengarkan ratusan ayat. Maka, setiap selesai 4 rakaat (dua kali salam), imam akan duduk cukup lama untuk membiarkan jamaah beristirahat, mengatur napas, atau sekadar minum. Karena banyaknya waktu istirahat inilah, salat ini dinamakan Tarawih (Salat yang penuh jeda istirahat).
Dari sebuah bilik kecil di Madinah hingga ke masjid-masjid megah di seluruh dunia, sejarah Tarawih mengajarkan kita tentang keseimbangan: antara rasa takut memberatkan orang lain (Nabi SAW) dan semangat untuk menyatukan umat dalam kebaikan (Umar bin Khattab).



